22.8.16

the butterfly effect versi kehidupan aye

kata ibuk "pasangan sebenarnya itu ketika kamu dan dia sama-sama mencintai. itu anugerah. banyak orang menikah tapi karena terpaksa, satu sisi ada yang sangat mencintai, di sisi lain ada yang hanya menerima saja. tapi ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu cintai dan dia juga mencintai kamu, insyaallah kalian akan saling mengerti dan bisa bekerja sama."

ibuk, aku udah nemuin dia. tapi waktunya nggak tepat. kenapa dia harus datang waktu aku sibuk dengan kuliahku? aku takut kalau tidak akan punya waktu untuk dia. aku takut kalau aku terlalu cuek seperti hubunganku yang dulu: aku jarang banget saling mengabari sampai akhirnya aku nggak tau masih sayang atau enggak sama dia. kita juga nggak pernah ketemu lagi. akhirnya putus. 

aku mau kali ini aku bisa menjalani hubungan yang lama, yang bisa saling mengerti. aku rasa mencintai aja belum cukup. aku harus obyektif sama karakternya dia juga. terkadang orang terlalu mencintai sampai mengorbankan kepribadiannya diubah sesuai dengan ekspektasi pasangannya. setelah putus? jadi krisis identitas, nggak nyaman dengan diri sendiri, kehilangan temen. aku nggak mau kayak gitu.  aku harus tahu, dia tipe orang seperti apa.

saat aku tahu dia semakin menarik dan aku pun mulai menerima kekurangannya, aku masih sedemikian takut dengan apa yang bisa aku lakukan kalo aku terlalu menerimanya? apakah aku obyektif? apakah saat ini perasaanku lebih besar daripada logikaku? kebanyakan hubungan tidak sehat adalah karena orang memaksakan harus sama "dia" walaupun tahu kalau karakternya itu bertolak belakang dengan dirinya. orang percaya bahwa, dia dapat dirubah seiring dengan berjalannya waktu. tapi efeknya apa? orang merubah kepribadiannya dan menjadikan dia krisis identitas. ketika dia sudah merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri dan kembali dengan kepribadiannya yang dulu, orang tentu akan meninggalkannya.
aku tidak mau meninggalkan maupun ditinggalkan. walaupun semua orang pasti meninggal.

keputusanku saat ini adalah, karena aku masih muda banget dan belum ada persiapan untuk menjalani hubungan serius, aku berusaha menjaga jarak dengan dia. walaupun pandanganku tidak bisa bohong karena aku selalu ngeliatin dia, tapi setidaknya aku udah berusaha. aku percaya bahwa jodoh akan datang saat aku bener-bener siap segala sesuatunya. aku percaya Allah selalu memberikan rezeki sesuai dengan waktunya dan aku tidak seharusnya khawatir untuk takut kehilangan sesuatu. mungkin ini ujian dari Allah, ketika aku milih dia dan kuliahku berantakan, atau ketika aku fokus kuliah dan berpuasa sambil memperbaiki diri sendiri. karena aku takut tidak ada jalan kembali ketika aku salah memilih nasib. Jatuh cinta memang berat, terkadang ujian, terkadang anugerah. kita tunggu aja, kalau aku sudah siap dan dia masih bisa ada buat aku, berarti takdir kita memang sama.

No comments:

Post a Comment