4.8.16

pengalaman buruk

Mungkin ini pengalaman buruk kedua saya tentang Pengungsi.
sekedar mengingatkan, bahwa pengalaman ini mungkin hanya terjadi pada saya. Dan perlu diketahui juga, ini terjadi karena apes. Salah satu sebabnya mungkin karena di jalan saya lupa berdoa atau gimana.
sekedar mengingatkan: setelah kalian membaca ini, tolong jangan men-generalisasi para Pengungsi.
sebagian besar dari mereka sangat ramah dan memang seharusnya kita membantunya.

sini sama pakde sini biar tak ceritain nabi-nabi


oke, kita mulai
mau tahu cerita yang pertama?

jadi waktu itu jam 20.45 saya baru aja pulang dari Wohnheim(Asrama)nya Nanda di Lausen. karena ternyata hp saya baterainya habis dan udah terlanjur keluar Wohnheim, akhirnya saya nunggu di halte sambil liat jadwal Tram.
tiba-tiba ada laki-laki yang datang dari arah kiri.

A: Aku  ;   L: Laki-lakinya
L: Hallo
A: hallo
L: kamu tinggal dimana?
A: saya nggak tinggal disini, saya cuma mampir ke rumah temen saya di asrama
L: saya nggak bisa bahasa jerman, ngomong bahasa inggris aja ya
A: oke. saya nggak tinggal disini, saya cuma mampir ke rumah temen saya
L: dimana?
A: di asrama sebelah sana
L: oh... saya dari *********. saya pengungsi. saya tinggal di daerah sana (sambil nunjuk). kamu asal darimana?
A: Indonesia
L: oh... kamu kuliah?
A: iya
L: kita berteman boleh?
A: tentu
L: jadi gini, sebenarnya saya nyari pacar. kamu mau nggak jadi pacar saya? atau kamu carikan saya pacar
A: Maaf, saya kesini cuma mau kuliah, nggak nyari pacar atau memikirkan yang lain. saya minta maaf
L: oke nggak papa, saya kira kamu mau, soalnya banyak temen saya yang punya pacar orang indonesia. maaf sudah mengganggu kamu
A: iya nggak papa

(tram datang)

saya naik tram dan duduk di deretan tengah. ternyata orang yang tadi duduknya selisih 2 kursi di depan saya, menghadap ke saya. saya cuma diem main hp.
tram berhenti di Hauptbahnhof (Stasiun Utama), saya turun lalu nyari tram 16 buat pulang.
saya ngerasa kok kayaknya diikutin si orang tadi ya? pas tak liat samping, eh bener dia senyum.
pas saya naik tram 16, dia ikutan naik. whaaaaaaaattttt
tapi saya mikir lagi, jangan-jangan dia emang mau naik tram 16 lagi.

akhirnya saya bikin siasat. satu halte lagi saya pura-pura turun. kalo dia tetep di kursi, berarti dia emang naik 16. kalau dia ikut turun berarti dia ngikutin saya.

sayapun pura-pura turun. dia ternyata juga ikut turun. whattttttt
sebelum pintu tramnya nutup, saya sempet naik lagi. dan dia ikut naik lagi.
ini fix saya diikutin!!!!!

saya langsung telfon kak trismono, kak stainly, kak nasrul dan siapa aja yang ada di Asrama biar ngejemput saya di Halte. horor aja nanti saya diambil terus nggak tau diapain :(
apesnya, kak tris, kak stainly dan kak nasrul ternyata lagi ada acara di rumah kak divia.
fix ini saya bakal nangis di tram gara-gara takut. untungnya kak tris bilang "yaudah nanti tak coba telfon mikail sama tamara"
dan Alhamdulillah mereka bisa jemput!!!!!!!!
waktu saya turun dan dijemput kak mikail, Laki-laki itu bilang "saya tahu kalau studi di jerman itu susah. sampai jumpa"

what? -_-

ilustrasi: aku kayak orang ilang :(


cerita kedua.
hari ini saya kerja di Rötha sebagai Putzfrau (pembantu rumah tangga). Perjalanan yang cukup jauh, sekitar satu jam, membuat saya banyak melihat hal-hal yang baru sepanjang jalan. Bus saya melewati Halte Rötha Markt, satu halte sebelum tujuan saya.
Di Halte itu ada dua orang laki-laki yang sudah menunggu bus datang. Salah satunya membawa tiga botol bir dan beberapa minuman berenergi, satunya lagi membawa speaker (sambil nyetel lagu macem lagunya drake). Sembari mereka masuk, ibu supir bus menanyakan tiket dan tanda pengenal mereka.
"Nein, dieses Ticket ist für gestern und nicht mehr gültig"
"Entschuldigung, hmm hmm"
"Wohin möchten Sie denn fahren?"
"eeehm eeehm (lalu ngomong pake bahasa mereka)"
"Sie sollten dieser Lautsprecher ausschalten. Er stört andere Mitfahrer"
"oke oke (lalu ngomong pake bahasa mereka)"
"Wohin möchten Sie denn fahren?"
"nach Böhlen"
"oke, Ihr Personalausweis bitte"
"warum möchtest du meinen Ausweis sehen? Nein Nein"
"Ja, aber ich möchte sehen"
"Ich habe kein Geld, ich möchte nur zur Sparkasse fahren und mein Geld nehmen. und dann kaufe ich Ticket"
"Nein, das geht nicht. Jeder muss für ein Tiket bezahlen"
"Ja, aber zuerst fahre ich zu Sparkasse. ich habe kein Geld"
"Dann müsst Ihr beide zur Sparkasse laufen"
"du bist racist,  weißt du? Ich möchte nur zur Sparkasse fahren. du bist racist"
lalu ada Deutscher ikut ngomong
"Haalo, Sie ist nicht racist. du solltest ein Tiket mit Bargeld kaufen!"
"Ja, aber ich habe kein Geld, Ich muss zuerst zur Sparkasse fahren, aber sie ist racist. Ich bin Flüchtlinge weißt du? Ich fahre normalerweise kostenlos und jetzt diese Frau möchte meinen Ausweis sehen. das ist racist!"
aku ikut ngomong
"Hey, ich bin auch Ausländer und sogar trage ich einen Kopftuch auf meinem Kopf. Die Frau ist nicht racist. Die Regel in Deutschland gilt so, und ich habe auch meinen Ausweis gezeigt. Ihr Beide seid von allen Seiten falsch!"

terus mereka keluar sambil kayaknya mengumpat ke kita semua pake bahasa mereka. Bus pun berjalan. Dua laki-laki tadi melemparkan jari tengah ke bus. memalukan.
saya nggak habis pikir, mereka itu kayak memaksakan orang lain harus nurut aturan di negerinya atau gimana?
kita semua orang asing yang tinggal di jerman. ya kita harus ikutin peraturan Jerman. kalau kita di Indonesia, ya ikuti peraturan di Indonesia. jangan semaunya sendiri.



saya minta maaf karena beberapa pakai bahasa jerman. mohon translate pake google translate aja ya yang bahasa jerman, kakiku rasanya kram baru pulang kerja jadi mau istirahat. byeeee

No comments:

Post a Comment